farah lullaby

Friday, May 20, 2011

Menilik Sejarah dari Suku Sunda (pamali kalo gak tau)




I. Sundanese as part of a hundred in Indonesian Ethnics
Sebagai suatu bangsa yang amat kaya, Indonesia tidak hanya terdiri dari melimpahnya Sumber Daya Alam yang tersebar di hampir seluruh pelosok negeri, namun juga Indonesia kaya akan Sumber Daya Manusia yang merupakan modal dalam rangka pembangunan dalam negeri. Kekayaan SDM yang dimiliki Indonesia terbagi dalam beberapa kelompok suku bangsa yang berbeda-beda dari Sabang hingga Merauke.
Indonesia disebut-sebut memiliki suku bangsa yang jumlahnya hingga mencapai ratusan, yang diantaranya dan dianggap lebih dominan ialah suku Sunda, Padang, Batak, Jawa, dll. Begitu beragamnya suku bangsa yang dimiliki Indonesia merupakan objek menarik untuk diteliti, dimana penelitian ini disebut dengan penelitian etnologi.
Etnologi merupakan bagian dari ilmu antropologi budaya, dimana etnologi itu sendiri merupakan ilmu yang menulusuri asas-asas manusia. Penelitian tersebut dilakukan dengan cara menelusuri seperangkat pola kebudayaan sebuah suku bangsa. Objek yang merupakan kajian dari etnologi terbagi menjadi dua hal, yaitu: Pertama, mempelajari pola-pola kelakuan masyarakat seperti perkawinan, struktur kekerabatan, sistem ekonomi dan politik, agama, cerita-cerita rakyat, kesenian dan musik, serta perbedaan pola tersebut dalam masyarakat modern. Kemudian yang kedua ialah mempelajari dinamika kebudayaan seperti perubahan dan perkembangan kebudayaan serta bagaimana suatu kebudayaan mempengaruhi kebudayaan lain.
Dengan dua panduan yang telah dijabarkan diatas maka makalah ini akan melakukan penelitian etnologi dengan meneliti pola kehidupan suku Sunda yang merupakan satu dari sekian banyak suku bangsa di Indonesia. Dimana penelitian akan mengacu pada lokasi dimana suku bangsa ini tumbuh, bagaimana kondisi lingkungan alam yang mendukung kehidupan mereka serta letak demografinya.
Demi memperkuat penelitian maka akan ditilik pula asal mula serta sejarah pembentukan suku Sunda, serta unsur-unsur kebudayaan universal yaitu bahasa yang digunakan, sistem teknologi, dan alat produksi, sistem mata pencaharian, organisasi sosial, sistem pengetahuan, kesenian, dan sistem kepercayaan yang dimiliki oleh suku Sunda.
Suku Sunda memang sudah tidak asing lagi ditelinga, erat kaitannya dengan sisi Barat pulau Jawa. Dalam ilmu Bumi (geologi) dikenalkan nama dataran Sunda, berupa dataran masa lampau (masa grasial) yang membentang dari barat ke Timur antara lembah Brahmandapura di Myanmar hingga Maluku sekarang. Isitilah Sunda Besar meliputi pulau Sumatera, Kalimantan, Jawa, dan Madura. Sedangkan sebutan Sunda kecil terdiri dari Bali, Lombok, Sumbawa, Sumba, Flores dan Timor.

1.2 Demografy, the Environment, and Location of their lived
Suku Sunda merupakan kelompok etnis yang berdomisili di bagian barat pulau Jawa, yang masuk kedalam wilayah administrasi provinsi Jawa Barat. Dari wilayah Ujung Kulon hingga Brebes (mencakup wilayah administrasi provinsi Jawa Barat, Banten, DKI Jakarta, dan sebagian Jawa Tengah.Dimana saat ini tercatat bahwasanya suku Sunda merupakan suku terbesar kedua di Indonesia setelah suku Jawa, sekurang-kurangnya terdapat sekitar 15,41% suku Sunda dari seluruh masyarakat Indonesia.
Pada tahun 2000 tercatat jumlah seluruh suku Sunda mencapai 30,9 juta yang tersebar di wilayah-wilayah seperti Jawa Barat (26,4 juta), Banten (1,9 juta), Jakarta (1,3 juta), serta Lampung (600 ribu). Mereka tidak hanya menetap di daerah asalnya saja, namun juga melakukan perantauan di wilayah-wilayah yang tidak begitu jauh, seperti yang tercatat pada data diatas. Mereka menetap disana bertahun-tahun dan kemudian menjadi warga setempat.
Jawa Barat terletak di sisi barat pulau jawa, yang mana merupakan provinsi dengan populasi terbesar dan terpadat di Indonesia dan ber-ibukota di Bandung yang terletak di pegunungan, dimana hal ini berbeda dengan ibukota provinsi lainnya yang biasanya terletak di dataran yang lebih rendah.
Jumlah populasi Jawa Barat sebanyak 43.021.826 dengan luas wilayah 34.816, 96 km2. Berbatasan dengan Provinsi DKI Jakarta dan Banten (yang awalnya merupakan bagian dari wilayah administrasi Jawa Barat yang kemudian dipisahkan di tahun 2000) dan di sisi timur berbatasan dengan Provinsi Jawa Tengah sedangkan sisi Utara berbatasan dengan Laut Jawa, dan di sisi Selatan dengan Samudera Hindia.
Jawa Barat dan Banten ialah provinsi yang termasuk kedalam bagian Ring of Fire yang memiliki gunung terbanyak dibandingkan dengan provinsi lainnya di Indonesia. Sehingga wilayah ini dianggap memiliki keindahan alam yang tak diragukan lagi, dengan cahaya matahari tropik dengan atmosfir sejuk serta pemandangan yang indah yang dapat ditemukan dihampir seluruh wilayah ini. Terdapat satu buah gunung vulkanis, tebing-tebing terjal yang indah, hutan, sungai, kawasan agrikultur yang sangat subur, dan pantai-pantai yang sangat indah yang mana semua ini dapat dijadikan tempat pariwisata juga sumber perekonomian bagi suku ini.
Jawa Barat dikenal juga memiliki Sumber Daya Alam yang kaya, dimana terdapat sekitar 9,488,623 km lahan padi dimana setiap kilometer-nya dapat memproduksi lebih dari satu ton beras. Produksi Palawija mencapai 2.044.674 ton dengan produktivitas 179,28 kuintal/ha. Tidak hanya cocok untuk bercocok padi dan palawija saja, karena struktur tanah di wilayah ini cocok untuk tanaman hortikultura dimana 2.938.624 ton sayuran, 3.193.744 buah-buahan, dan 159,871 ton tumbuhan obat-obatan (bio pharmacology).
Luas hutan yang berada di Jawa Barat mencapai 764.387, 59 hektar atau 20,62% dari jumlah seluruh hutan di Indonesia. Luas tersebut terbagi menjadi hutan produktif yang mencapai 362.980, 40 hektar (9,79%), hutan lindung 228.727, 11 hektar (6,17%), dan konservasi 172.680 hektar (4,63%). Hutan Mangrove mencapai 40.128, 89 hektar dan menyebar di 10 kabupaten disetiap pantai yang ada di Jawa Barat.
Hutan produktif yang masih ada di Jawa Barat dapat menghasilkan 200.675 m2 kayu walaupun angka ini belum dapat mencukupi seluruh kebutuhan kayu di provinsi ini. Tidak hanya kayu saja yang dapat di produksi di hutan yang tersebar di wilayah provinsi Jawa Barat, karena jug adapt dihasilkan seperti Sutera, Jamur, Bunga Cemara, Getah Dammar, Rotan, Bambu, dan Kapuk.
Jawa Barat pun dikelilingi oleh lautan yang cukup luas yang mampu menjadi lahan bagi perikanan. Komoditas utama dari provinsi ini ialah tambak Ikan Mas, Ikan Nila, Ikan Lele, Gurame, Udang, Patin, Jambal, Kepiting dan Rumput Laut. Ditahun 2006 Jawa Barat memanen 560.000 ton ikan atau sekitar 63,63%.
Provinsi ini pun memiliki potensi lain selain di sector-sektor diatasm sebagian penduduknya berprofesi sebagai peternak, seperti pemerahan susu sapi, ayam petelur ataupun pedaging, bebek, yang merupakan komoditas utama provinsi ini. Di tahun 2006 data menunjuan terdapat 96.796 sapi perah (25% dari populasi nasional), 4.249.670 kambing atau domba, 28.652.493 hewan petelur, 5.596.882 bebek (16% dari populasi nasional). Dan saat ini terdapat 245.994 produksi daging (3% dari populasi nasional)
Letaknya yang berada di pegunungan menjadikan provinsi ini merupakan wilayah yang bagus untuk bercocok tanam, seperti teh, kelapa, coklat, tembakau, kopi, tebu, dan akar wangi. Dari komoditas tersebut kelapa, coklat, tembakau dan kopi merupakan komoditas nasional utama di provinsi Jawa Barat. Dari sisi area produktivitas terbaik yaitu luas area penanaman yang sebanding dengan besarnya tanaman yang ditanam seperti komoditas tembakau, dan tebu. Dari sisi produksi, produktivitas tertinggi ialah sawit dan tebu.
Di Provinsi Jawa Barat juga ditemukan produksi pertambangan, Di tahun 2006 Jawa barat telah berkontribusi menghasilkan 5.284 ton zeolit, 47.978 ton bentonit, bubuk besi, semen prozolan, dan permata. Penambangan batu permata yang memiliki potensi sangat besar ditemukan di Garut, Tasikmalaya, Kuningan dan Sukabumi.
Sumber daya alam mentah juga dapat ditemukan di wilayah ini, seperti Kapur, lahan penambangan minyak di Laut Jawa, dan lumpur. Di provinsi terdapat beberapa waduk besar yang dapat digunakan sebagai pembangkit listrik, seperti Waduk Jatiluhur, Saguling dan Cirata.
Tidak hanya kaya akan potensi alam, daerah Jawa Barat juga memiliki potensi pariwisata alam yang sangat banyak dan tersebar di hampir seluruh wilayahnya. Pariwisata pantai dapat ditemukan di Pantai Pelabuhan Ratu, Pangandaran, Bayah, serta Ujung Genteng. Di daerah Ciamis ditemukan pula sebuah karang yang disebut dengan Grand Canyon, dimana pariwisata ini sangat diminati oleh pelancong baik domestik ataupun internasional. Selai wisata bahari, dapat ditemukan pula wisata pegunungan, seperti Gunung Gede dan Salak yang biasa digunakan untuk hiking.
Jawa Barat dianggap sebagai wilayah yang kaya tidak hanya potensi alam namun juga manusia nya, maka tak ayal Jawa Barat dijadikan tujuan bagi mereka yang ingin merantau, selain karena tersedianya lahan-lahan profesi juga letaknya yang dekat dengan ibukota Jakarta sehingga daerah ini mejadi pilihan untuk menjadi tempat rantauan bagi suku-suku lainnya.





2.1 Sundanese on the Historical view
Tidak ada catatan pasti mengenai awal muasal keberadaan suku Sunda, suku ini dianggap kurang dikenal di dunia, keberadaan mereka sering dihubungkan dengan suku Sudan di Afrika karena faktor salah eja dalam beberapa ensiklopedia, Sundanese pun tidak terdaftar dalam catatan autotext komputer sehingga penelitian mengenai suku ini belum mencapai titik yang mendalam.
Suku Sunda memiliki keunikan tersendiri, disaat suku-suku lain memiliki mitos-mitos mengenai penciptaan dan asal muasalnya, suku Sunda justru tidak memiliki mitos-mitos seperti itu. Belum ada penelitian yang dapat membuktikan tentang awal muasal keberadaan mereka, dan bagaimana hingga kemudian mereka dapat menetap di Jawa Barat.
Ada beberapa pendapat yang mengatakan bahwa suku Sunda merupakan suku pelarian atau juga buangan, dimana mereka awalnya merupakan bagian dari suku Jawa, namun karena ada pertentangan mereka kemudian melarikan diri dan menetap di Jawa Barat. Maka itu mengapa muncul isu adanya permusuhan anatara suku Sunda dan Jawa.
Kebudayaan Sunda merupakan kraeasi yang diciptakan oleh amsyarakat Sunda yang telah berada di Tatar Sunda (tanah sunda) sejak tahun-tahun sebelum Masehi. Urang Sunda dikenal memiliki sifat yang ramah, santun dan baik pada kaum pendatang. Terdapat beberapa istilah yang berada di tatanan masyarakat Sunda, tdisebutkan bahwa ada istilah Sunda Buhun atau Sunda Kuna, yaitu budaya yang dikaitkan dengan segala halo rang Sunda dimasa pra-islam atau sebelum abad ke-17. Sunda Buhun lebih sering difokuskan pada bahasa, sastra dan aksara Sunda.
Disaat membicarakan mengenai suku Sunda tentu kita akan membicarakan pula mengenai suku Badui, suku ini hidup di pedalaman Banten dan mengisolasi kehidupan mereka dari dunia modern saat ini. Suku Badui menganggap mereka sebagai ‘kokolot’ (tetua) dari suku Sunda atau juga mereka menyebut dirinya sebagai Sunda Wiwitan (Sunda mula-mula), suku ini menganut kepercayaan animistik, atau kepercayaan yang mirip dengan kebudayaan Hindu dengan memuja roh-roh yang berada pada pohon, patung, sungai dll.
Ditemukan terdapat kemiripan dalam bahasa antara suku Badui dan Sunda namun kepastian bahwa suku Badui merupakan bagian dari suku Sunda belum dapat dipastikan. Walaupun secara demografi kedua suku ini berada pada satu wilayah serta memiliki beberapa kemiripan dalam tradisi dan bahasa.
Suku Baduy memiliki pandangan lain mengenai asal muasal keberadaan mereka. Menurut kepercayaan yang merekan anut, orang Kanékés (mereka menyebut diri mereka seperti itu) mengaku sebagai keturunan dari Batara Cikal, yaitu satu dari tujuh dewa atau batara yang diutus turun kebumi. Asal usul tersebut sering pula dihubungkan dengan Nabi Adam sebagai nenek moyang pertama. Menurut kepercayaan mereka, Adam dan keturunannya termasuk warga Kanékés memiliki tugas bertapa atau asketik (mandita) untuk menjaga harmoni dunia.
Pendapat mengenai asal-ususl orang Kanékés berbeda dengan pendapat para ahli sejarah, yang mendasarkan pendapatnya dengan cara sintesis dari beberapa bukti sejarah berupa prasasti, catatan perjalanan pelaut Portugis dan Tiongkok, serta cerita rakyat mengenai Tatar Sunda yang cukup minim keberadaannya.
Masyarakat Kanékés dikaitkan dengan Kerajaan Sunda yang sebelum keruntuhannya pada abad ke-16 berpusat di Pakuan Pajajaran (sekitar Bogor sekarang). Sebelum berdirinya Kesultanan Banten wialayah ujung barat pulau Jawa merupakan bagian penting dari Kerajaan Sunda. Banten merupakan pelabuhan barang yang cukup besa. Sungai Ciujung dapat dilayari dengan berbagai jenis perahu dan ramai digunakan untuk sarana pengangkutan ahsil bumi dari wilayah pedalaman. Dnegan demikian penguasa wilayah tersebut, yang dikenal dengan Pangeran Pucuk Umum bahwa kelestraian alam perlu dipertahnkan dan dijagan dengan baik.
Kemudian Pangeran tersebut memerintahkan beberapa prajuritnya untuk menjaga wilayah tersebut, prajurit-prajurit yang sangat terlatih ini ditugaskan untuk mengelola kawasan-kawasan yang berhutan lebat dan berbukit di wilayah Gunung Kendeng tersebut. Namun ada juga yang mengatakan bahwa keberadaan mereka ini sengaja dirahasiakan atau disembunyikan demi agar tidak diketahui oleh musuh dari kerajaan Pajajaran, agar mereka akan tetepa dapat memelihara kehidupan alam semesta hingga saat ini.
Sebuah riset pernah dilakukan oleh seorang dokter yang bernama van Tricht yang menyangkal mengenai teori tersebut, menurut dokter ini riset yang ia lakukan menujukan bahwa suku Sunda Kanekes ini memang merupakan penduduk asli setempat didaerah tersebut yang memiliki daya tolak yang sangat kuat terhadap pengaruh luar. Begitupun orang-orang Kanekes ini, mereka menolak apabila dikatakan sebagai orang-orang pelarian dari Pajajaran. Menurut Danasasmita dan Djatisunda orang Baduy merupakan penduduk stempat yang dijadikan mandala (kawasan suci) secara resmi oleh raja, karena penduduknya berkewajiban memeilihara kebuyutan (tempat pemujaan leluhur atau nenek moyang), bukan agama Hindu atau Budha. Kebuyutan di daerah ini dikenal dengan Kabuyutan Jati Sunda atau ‘Sunda Asli’ atau Sunda Wiwitan. Oleh karena itu agama asli mereka pun diberi nama Sunda Wiwitan. Raja yang menjadikan wilayah Baduy ialah Raja Rakeyan Darmasiksa.

2.2 Sejarah Suku Bangsa Sunda
Dilihat dari beberapa aspek baik dari upacara keadatan ataupun tradisi-tradisi semacamnya, suku Sunda memiliki kemiripan dengan suku Jawa, dimana aktivitas kebudayaannya cenderung dipengaruhi oleh pola-pola Hindu. Seperti pemujaan terhadap Dewi Sri ataupun Nyi Roro Kidul yang akan dijelaskan pada sub bab lainnya.
Beberapa suku di Indonesia memiliki pengaruh dari budaya Hindu, entah bagaimana asal muasalnya budaya Hindu dapat masuk ke Indonesia karena tidak ada catatan yang pasti mengenai ini. Kepercayaan Hindu ditemukan berasal dari India, sehingga beberapa ahli kebudayaan menganggap bahwa Hindu masuk ke Indonesia melalui Pantai Selatan, namun bagaimana cara masuknya dan terasimilasi serta siapakah yang menyebarkannya tidak diketahui.
Karakter Hindu begitu kuat dan ada di hampir seluruh masyarakat Indonesia, tidak hanya mereka yang menetap di Pulau Jawa namun juga di beberapa bagian pulau Sumatera dan Kalimantan, terutama di Bali pola-pola budaya Hindu sangat kuat hingga saat ini. Tapi bagaimana bisa Hindu kemudian bercokol di dalam masyarakat Indonesia belum dapat ditemukan jawabannya, karena Hindu mempengaruhi kebudayaan di Indonesia khususnya di Pulau Jawa terstimulasi lebih kuat di pedalaman dibandingkan di pesisir. Pertanyaan-pertanyaan mengenai masuknya hindu lebih banyak dan sulit untuk dijawab.
Keberadaan suku Sunda dianggap telah muncul sejak 1000 tahun yang lalu, dilihat dari karya sastra tertua yang dimiliki oleh suku ini. Caritha Parahyangan yang berceritakan tentang keagungan Raja Jawa Sanjaya yang juga merupakan seorang parjurit yang sangat hebat. Ditemukan bahwa Sanjaya merupakan penganut Shiwaisme, hal ini mempertegas bahwa kepercayaan Hindu telah mengurat akar dari tahun 700an.
Pola-pola Shiwaisme tampak jelas ditemukan di bangunan-bangunan candi yang ditemukan di pulau Jawa dan Bali. Di jawa bangunan candi dapat ditemukan di dataran tinggi Dieng di Jawa Tengah, Borobudur di Yogyakarta, serta Prambanan.
Hindu memang mempengaruhi pola-pola kebudayaan di Indonesia terutama Jawa namun ditemukan pula pola-pola kebudayaan Buddha yang juga mirip dengan Shiwaisme. Diduga agama resmi kerajaan Syailendra di Jawa Tengah ialah Buddha sejak tahun 778-870, Buddha sendiri ialah agama kedua yang berlaku di India setelah Hindu. Masuknya Hindu Buddha tidak menggoyahkan pola-pola kebudayaan Hindu, karena Hindu bercokol hingga abad ke 14. Struktur kelas yang kaku nampak berkembang kuat di masyarakat, begitupun dengan bahasa Sansekerta yang menyebar luas kedalam masayarakat suku-suku yang berada di pulau Jawa.
Penyembahan mengenai nenek moyang kuno yang berasal dari kepercayaan Hinduisme ditemukan di pola-pola kebudayaan orang Sunda dan Jawa. Upacara adat dan ritual-ritual kepercayaan dilakukan dihari setelah adanya kematian kerabat dilakukan hingga masa kini, yang di masyarakat sunda disebut Haolan. Hal ini sejalan dengan pandangan Hindu yang menganggap kehidupan dan kematian dapat memepertinggi nilai ritual-ritual seperti ini.
Dalam masyarakat suku Sunda juga ditemukan pengaruh suku Jawa, itu mengapa kedua suku ini dianggap memiliki kemiripan budaya sejak awal. Seorang sejarwan Bernard Vlekke mengatakan bahwa suku Sunda dianggpa cukup terbelakang hingga pada abad ke 11. Kerajaan-kerajaan besar justru ditemukan di Jawa Tengah dan Timur saja, sedangkan di Jawa Barat tidak ditemukan tanda-tanda adanya sebuah kerajaan besar di tahun 700- 1100an. Adapun kerajaan yang berdiri di tataran Sunda, namun kerajaan ini disinyalir justru berada dibawah kekuasaan raja-raja Jawa. Seperti yang telah dibahas bahwa kerajaan-kerajaan di Jawa mayoritas menganut kepercayaan Hinduisme. Dimulai sejak masa raja Airlangga di jawa Timur ditahun 1020, kemudian raja Kertanegara tahun 1268-1292, Raja Majapahit di tahun 1478, kerajaan-kerajaan ini mempengaruhi pola-pola kebudayaan orang Sunda dan memeperdalam pengaruh Hinduisme itu sendiri.
Ditahun 1333 berdiri sebuah kerajaan di tataran Sunda di dekat kota Bogor, Kerajaan Pajajaran kemudian dikalahkan oleh kerajaan Majapahit dibawah kepemimpinan perdana menterinya yang sangat terkenal Gadjah Mada. Ada sebuah cerita romatik yang menghiasi kisah runtuhnya kerajaan Pajajaran ini. Seorang putri Sunda yang bernama Kidung Sunda berencana akan dinikahkan oleh seorang raja Majapahit bernama Hayam Wuruk, hanya saja Gadjah Mada menentang pernikahan ini. Pernikahan lintas suku ini dikhawatirkan oleh keduabelah pihak, sehingga para petinggi-petinggi suku Sunda kemudian melakukan pertemuan besar dan merumuskan persyaratan.
Ketika raja dan bangsawan Sunda mendengar bahwa sang putrid hanya akan menjadi selir dan tidak ada pernikahan seerti yang telah dijanjikan maka para tetua ini kemudian murka, dan memicu adanya peperangan diantara kedua kerajaanyang kemudian meluluhlantahkan kerajaan Pajajaran, dan kemudian setelah episode peperangan yang memilukan ini pertentangan antara kedua suku ini berlangsung hingga bertahun-tahun.
Kerajaan Pajajaran merupakan kerajaan pertama yang berada di tataran sunda walaupun kerjaan ini berdiri pada tahun 1482-1579 jauh lebib muda dibanding kerajaan kuno di daerah Jawa lainnya. Cerita tentang kerjaan ini dikemas dalam beberapa mitos-mitos yang melegenda. Sebuah cerita mengenai masuknya agama Islam ke suku Sunda berawal dari cerita tentang Raja Siliwangi yang bertentang dengan saudara-saudarnya dikerajaan muslim banten, Cirebon dan Demak, dan menjadi catatan masuknya Islam ke dalam tatanan suku Sunda.
Sejarah mengenai suku Sunda ini memang tidak mudah ditemui, karena seperti yang awalnya dibahas di sub bab sebelumnya bahwa asal muasal suku Sunda sulit untuk dietahui, banyak spekulasi yang beredar namun kepastian mengenai keberadaan suku ini belum ditemukan.

3.1 Bahasa
Seperti halnya jumlah populasinya yang merupakan terbesar kedua di Indonesia, bahasa Sunda juga merupakan bahasa daerah kedua yang digunakan paling sering setelah bahasa Jawa. Suku ini masih menggunakan bahasa daerahnya dalam percakapan sehari-hari dan belum dipengaruhi oleh bahasa lain. Bahasa ini digunakan oleh suku Sunda sebagai bahasa sehari-hari terutama bagi suku Sunda yang tersebar di Provinsi Jawa Barat (kecuali daerah pantura yang merupakan daerah tujuan urbanisasi) dan Banten (khususnya daerah Selatan). Bahasa Sunda juga ditemuka di perbatasan antara Jawa Barat dengan Tengah, yaitu daerah Kali Pemali (Cipamali), Brebes, Jawa Tengah.
Bahasa Sunda juga ditemukan di sebagian daerah Jawa Tengah lainnya, misalnya di Cilacap. Ditemukan beberapa nama orang dan tempat yang menggunakan bahasa Sunda dibandingkan bahasa Jawa. Seperti yang ada di kecamatan Dayeuhluhur atau Cimanggu, dimana Dayeuh berasal dari bahasa Sunda yang artinya ‘tempat’, nama ‘Ci’ juga sering ditemui di daerah-daerah kawasan orang Sunda, padahal Cilacap dan Berebes ini masuk kedalam wilayah administrasi Jawa Tengah.
Menurut ahli bahasa wilayah penuturan bahasa Sunda sebenarnya telah melebar hingga ke Jawa Tengah, selain Cilacap dan Brebes penuturan bahasa Sunda juga ditemukan di dataran tinggi Dieng, dimana kata Dieng berasal dari kata ‘Dihyang’ yang merupakan bagian dari bahasa Sunda Kuna. Tidak sampai disitu karena setelah maraknya mobilisasi suku Sunda, kemudian bahasa Sunda dapat ditemukan di wilayah luar asalnya, seperti di Lampung, Jambi, Riau, dan Kalimantan Selatan.
Bahasa Sunda itu sendiri terbagi menjadi beberapa dialek yang dicirikan dari tempat dimana masyarakat itu tinggal. Dialek (basa wewengkon) Sunda-Banten hingga dialek Sunda-Jawa Tengahan yang mulai tercampur bahasa Jawa. Para ahli membaginya menjadi enam dialek yang berbeda:
• Dialek Barat, yang dipertuturkan oleh masayarakat Sunda yang berada didaerah Banten selatan.
• Dialek Selatan, yang merupakan dialek Priangan mencakup kota Bandung dan sekitarnya.
• Dialek Utara, mencakp daerah Sunda utara termasuk kota Bogor dan beberapa bagian Pantura.
• Dialek Tengah Timur, yang dituturkan oleh orang Sunda yang berdomisili di daerah majalengka.
• Dialek Timur Laut, dialek yang dapat di temukan di daerah kuningan dan juga Brebes, Jawa Tengah.
• Dialek Tenggara, dialek yang dapat ditemukan digunakan di sekitar Ciamis.
Dialek ini juga menjadi satu karakteristik Sunda-sunda yang berbeda-bedam baik yang berada di datarang tinggi atau pegunungan dan didaerah pesisir. Ada tanggapan yang meyatakan bahwa dialek Sunda pegunungan sangat halus karena dianggap sebagai mereka yang datang dari keluarga kerajaan, sedangkan dialek prang pesisir pantai cenderung kasar.
Secara penulisan bahasa Sunda disjikan dalam bentuk Abjad Latin dan sangat fonetis. Terdapat lima suara vokal murni (a, eu, I, u, o), dua vokal netral (e (pepet) dan eu ), dan tidak memiliki diftong. Fonem konsonannya ditulis dengan huruf p, b, t, d, k, g, c, j, h, ng, ny, m, n, s, w, l, r dan y. Konsonan lain yang aslinya muncul dari bahasa Indonesia diubah menjadi konsonan utama: f -> p, v -> p, sy -> s, sh -> s, z -> j, dan kh -> h.
Pengaruh budaya Jawa pada masa kekuasaan kerajaan Mataram-Islam, bahasa wilayah Parahyangan – mengenal undak-usuk atau tingkatan berbahasa, mulai dari bahasa halus, bahasa loma/ lancaran, hingga bahasa kasar. Namun, di wilayah pedesaaan/peggunungan dan mayoritas Banten, bahasa Sunda loma (bagi orang-orang daerah Bandung terdengar kasar) tetapi dominan. Dibawah ini disajikan beberapa contoh mengenai Undak-usuk tersebut.

Tabel 1. TEMPAT
Bahasa Indonesia Bahasa Sunda (normal) Bahasa Sunda (sopan/lemes)
Di atas .. Di luhur .. Di luhur ..
Di Belakang .. Di tukang .. Di pengker ..
Di bawah .. Di handap .. Di handap ..
Di dalam .. Di jero .. Di lebet ..
Di luar .. Di luar .. Di luar ..
Di samping .. Di samping .. Di gigir ..
Di antara ..
Dan .. Di antara ..
Jeung .. Di antawis ..
Sareng ..

Tabel 2. Waktu
Bahasa Indonesia Bahasa Sunda (normal) Bahasa Sunda (sopan/lemes)
Sebelum Saacan Sateuacan
Sesudah Sanggeus Saparantos
Ketika Basa Nalika
Besok Isukan Enjing

Tabel 3. Lain-lain
Bahasa Indonesia Bahasa Sunda (normal) Bahasa Sunda (sopan/lemes)
Dari Tina Tina
Tidak Aya Nyodong
Ada Embung Alim
Saya Urang Abdi

Bahasa Sunda memiliki catatan tulisan sejak milenium kedua , dan merupakan bahasa Astronesia ketiga yang memiliki actatan tulisan tertua, setelah bahasa Melayu dan bahasa Jawa. Tulisan pada masa awal menggunakan aksara Pallawa. Pada periode kerajaan Pajajaran, aksara yang digunakan ialah akasara Sunda Kaganga. Setelah masuknya pengaruh Kesultanan Mataram pada abad ke 16, Aksara Hanacaraka (cacarakan) diperkenalkan dan terus digunakan dan diajarkan dis ekolah-sekolah hingga abad ke-20. Tulisan dengan huruf latin diperkenalkan pada awal abad dan sekarang mendominasi sastra tulisan berbahasa Sunda.

3.2 Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Awalnya Masyarakat suku sunda dianggap sebagai orang-orang terbelakang mengingat perkembangan kebudayaannya yang tidak sepesat tetangganya di Jaw tengah dan Timur. Pada tahun 700an ditemukan ada beberapa Kerajaan Besar di tanah Jawa yang berkespansi hingga ke Jawa Barat, sehingga ebberapa ahli menyimpulkan bahwa kerajaan yang berada di Jawa Barat sesungguhnya sangat kecil dan lemah, sehingga dapat dipengaruhi oleh kerajaan-kerajaan besar yang berasal dari Jawa.
Berbeda dengan di abad 11 atau masa dimana penelitian ini dimulai, suku Sunda masa kini jauh lebih berkembang baik secara teknologi maupun ilmu pengetahuan. Dimulai dari peranan aktif yang dilakukan oleh organisasi sosial-budaya Paguyuban Pasundan yang sangat berkontribusi dalam membangun pendidikan di tataran Sunda dengan mendirikan sekolah-sekolah abik tingkat dasar hingga menengah serta perguruan tinggi yang dimulai sejak tahun 1930an.
Pembangunan sumber daya manusia yang berkualitas pun masih dilakukan hingga kini, dilihat dari peranan pemerintahan Jawa Barat yang memiliki tugas dalam memberikan pelayanan pembangunan pendidikan bagi warganya yang merupakan hak warga yang harus dipenuhi dalam pelayanan pemerintahan.
Visi yang disusung oleh pemerintah Jawa Barat saat ini ialah “Dengan Iman dan Takwa Jawa Barat sebagai Provinsi Termaju di Indonesia dan Mitra Terdepan Ibukota Negara Tahun 2010” merupakan kehendak, harapan, komitmen yang menjadi arah kolektif pemerintah bersama seluruh warga Jawa Barat dalam mencapai tujuan pembangunannya.
Pembangunan pendidikan merupakan salah satu bagian yang sangat vital dan fundamental untuk mendukung upaya-upaya pembangunan jawa Barat di bidang lainnya. Pembangunan dalam sector pendidikan merupakan pondasi demi membangun pembangunan lainnya, karena secara hakiki upaya pembangunan pendidikan adalah membangun potensi yang dimiliki oleh setiap individu.
Suku Sunda memiliki potensi, budaya dan karakteristik tersendiri. Secara sosiologis-antropologis, falsafah kehidupan masyarakat Jawa Barat yang telah diakui memiliki makna mendalam adalah cageur, bageur, bener, pinter, tur singer. Filosof tersebut harus dijadikan pedoman untuk mengimplementasikan setiap rencana pembangunan yang telah dibuat.
Cageur bermakna sebagai kondisi sehat baik secara jasmani ataupun rohani. Bageur yakni berperilaku baik, sopan santun, ramah, bertatakrama. Bener yaitu sebuah perilaku jujur, amanah, penyayang dan takwa. Pinter mengandung makna terdepan dalam ilmu pengetahuan. Singer berarti kreatif dan inovatif dalam memandang sesuatu.
Sebagai pendukung dari filosofi tersebut ditempuh dengan melakukan pendekatan social cultural heritage approach, dimana dengan pendekatan ini diharapkan dapat merangsang peran aktif masyarakat dalam mensukseskan program pembangunan pendidikan yang digulirkan pemerintah.

3.3 Sistem Mata Pencaharian

Dengan begitu kayanya potensi alam yang menjadi tempat tinggal bagi masyarakat suku Sunda kemudian menjadikan adanya keragaman profesi yang di jalankan oleh mereka. Salah satu mata pecaharian yang paling dominan ialah ‘Ngahuma’ atau merupakan mereka yang berprofesi mengelola tanah huma atau sebuah tanah olahan pertanian. Tanah huma tersebut berupa ladang padi dan ladang palawija yang kemudian setelah panen usai maka tanah tersebut akan dibiarkan hingga kembali berhumus.
Pengertian ngahuma disebut juga berladang, namun mereka menggarap tanah olahan secara berpindah-pindah dan tidak menetap. Mereka biasanya membuka hutan kemudian menjadikan lahan bekas hutan tersebut ladang bertanam mereka, setalah panen lahan bekas hutan akan ditinggalkan dan kembali ketanah sebelumnya yang telah kembali berhumus.
Ada pula kepercayaan yang diyakini oleh orang Sunda Kanékés, mereka menganggap bahwa ‘ngahuma’ merupakan profesi yang tabu. Sumber kehidupan mereka dalam tradisi Kanékés adalah menanam padi di ladang, berburu ikan dan binatang di hutan, menanam tanaman buah, dan menyadap air kawung dihutan.
Pertanian Huma merupakan satu-satunya sumber pencaharian pertanian bagi orang Sunda Kanékés, bagi mereka tanah garapan diakui sebagai titipan dari Tuhan Sang Maha Pemcipta, mereka menganggap mereka diberikan kepercayaan untuk memelihara dan memanfaatkannya dengan baik dan bijaksana.
Mereka tidak akan mengakui kepemilikan ladang yang mereka garap, dan hanya mengklaim kepemilikan hasil panennya saja, seperti padi atau buah tanaman kera yang ditanam oleh orang pertama. Orang Sunda Kanékés memiliki sebuah tanggungjawab yang dipegang teguh bahwasanya dengan menggarap tanah huma dan melakukan perputaran garapan disekitar garapan masing-masing merupakan sebuah bentuk dari tanggungjawabnya dalam menjalani amanat dari Tuhan Yang maha Esa.
Terdapat sebuah hukum adat yang menjelaskan bahwasanya status kepemilikan tanah huma ditujukan bagi orang yang peratama kali membuka tanah garapan tersebut, dan apabila digunakan oleh orang lain maka harus dengan sepengetahuan dan telah mendapatkan izin dari si penggarap pertama.
Tanah garapan huma yang ditinggalkan sebelum satu tahun penuh akan disebut sebagai jami. Sedangkan tanah garapan huma yang telah ditinggalkan lebih dari satu tahun hingga telah ditumbuhi semak belukar dikenal dengan reuma, dan tanah reuma yang telah ditumbuhi oleh pohon-pohon besar akan disebut reuma kolot.
Awalnya profesi ngahuma ini tidak menimbulkan permasalahan, namun semakin berkembang pesatnya ilmu pengetahuan dan teknologi kemudian ngahuma ini menjadi suatu permasalahan. Semakin meningkatnya jumlah penduduk serta semakin padatnya wilayah permukiman penduduk menjadikan lahan yang dibutuhkan untuk meladang kemudian semakin menyempit. Selain permasalahan lahan-lahan yang dimanfaatkan untuk kepentingan sosial masyarakat, hutan-hutan pun kemudian dilindungi oleh pemerintah dengan menggalang pelestarian hutan dengan melarang adanya pembukaan hutan. Terutama pada masa kini dimana pembukaan hutan menjadi permasalahn yang sangat serius disaat cara pembukaan hutan dengan membakar tersebut menyebabkan adanya polusi asap yang tidak hanya menggangu udara di dalam nasional namun juga hingga ke negara tetangga.
Dengan munculnya hambatan-hambatan diatas maka saat ini orang Sunda sudah jarang yang berprofesi ngahuma, hanya di beberapa tempat yang masih mempertahankan profesi ini. Kemudian dibeberapa tempat ngahuma dilakukan di ladang-ladanya yang hanya sudah berkepemilikan saja, dan tidak lagi berpidah-pindah namun menunggu lahan tersebut sudah siap untuk ditanami kembali. Selain dilakukan di tanah yang sudah ada pemiliknya, ngahuma juga dilakukan di tanah-tanah jami dan reuma.
Alternatif lain sebagai mengganti profesi ngahuma masyarakat sunda kemudian ada yang bermata pencaharian dengan yang disebut dengan istilah ngebon. Ngebon ialah profesi berkebun yang dilakukan di tanah yang bersatus hak milik, atau petani penggarap menyewa tanah tersebut dalam jangka waktu tertentu kepada pemilik sah.
Kemudian setelah profesi ngebon ini cukup populer di kalangan masyarakat Sunda kemudian banyak ladang huma berubah menjadi perkebunan, yang menjadi pembeda ialah dari cara berocok tanamnya. Sebagai pembeda anatara padi sawah dengan padi huma ialah dari tempat dimana mereka menanamnya, padi huma ditanam diladang huma sedang padi sawah ditanam di sawah dengan menggunakan bibit yang dinamakan marus.
Tradisi ngahuma dalam definisi awal lambat laun diramalkan akan menghilang, hal ini disebabkan karena sangat tidak mungkinnya untuk mebuka lahan baru seperti yang telah diuraikan dpada penjelasan sebelumnya. Dan dari sinilah kemudian mata pencaharian yang digeluti oleh masyarakat suku Sunda kemudian mengalami perkembangan, ngahuma sedikit demi sedikit kemudian mulai berganti dengan ngebon.
Mata pencaharian masyarakat Sunda bukan hanya ngahuma atau negebon saja karena masih ada profesi lainnya, walaupun ngahuma dan ngebon menjadi mata pencaharian yang paling menjadi mayoritas di dalam masyarakat. Ada beberapa alasan mengapa suku Sunda lebih memeilih dua profesi tadi diatas dibandingkan profesi lainnya.
Bagi mereka yang tinggal di pesisir pantai nelayan menjadi salah satu pilihan profesi, namun kendala yang ditemukan ialah bahwa letak pantai yang etrsebar di Jawa Barat terutama di Pantai Selatan menjadikan profesi nelayan memiliki ancaman yang cukup berat. Pantai Selatan merupakan gugusan pantai dari Samudera Hindia yang berada di selatan pulau Jawa, menjadikan Pantai Selatan memiliki gemlombang ombak yang lebih besar dan riskan untuk berlayar di malam hari.
Mengapa ngebon dan ngahuma paling diminati oleh masyarakat itu disebabkan bahwa begitu suburnya tanah di tataran sunda, bahkan di dekat pesisir pantai pun tetap bisa ditanami dan ditumbuhi sayur dan buah-buahan yang segar dan berkualitas baik. Suburnya tanah yang ditempati oleh masyarakat suku Sunda menjadikan profesi sebagai petani menjadi potensi yang terbaik demi mencukupi kebutuhan hidupnya.
3.4 Organisasi Sosial
Didalam sosial masyarakat suku Sunda terdapat sebuah organisasi sosial yang telah berdiri sejak 20 Juli 1913 yang bernama Pagoeyoeban Pasoendan (Paguyuban Pasundan) yang merupakan organisasi tertua yang masih eksis hingga saat ini. Organisasi ini bergerak dalam berbagai bidang seperti pendidikan, sosial-budaya, politik, ekonomi, kepemudaan, dan pemberdayaan perempuan. Paguyuban ini berupaya demi melestrarikan kebudayaan asli Sunda dengan melibatkan tidak hanya seluruh lapisan masyarakat di tataran Sunda namun juga mereka yang memiliki kepedulian terhadap kebudayaan Sunda.
Paguyuban Pasundan berdiri awalnya di pengaruhi dari berdirinya organisasi Budi Utomo pada 20 Mei 1908 yang dianggap sebagai tonggak dari bangkitnya bangsa Indonesia dalam memperjuangkan kemerdekaannya. Sejak Budi Utomo berdiri banyak orang-orang yang berasal dari suku Sunda ikut bergabung kedalam organisasi Budi Utomo ini, hingga kemudian organisasi ini mebuka cabang di beberapa daerah Jawa Barat seperti Bogor dan bandung. Namun, seiring berjalannya waktu terjadi penurunan drastis pada jumlah anggota Budi Utomo yang bersuku Sunda, hal ini dipicu dari pandangan orang Sunda yang menganggap bahwasanya organisasi ini hanya mengutamakan kepentingan dan keuntungan bagi daerah Jawa Timur dan Jawa Tengah semata.
Berawal dari inisiatif dari siswa-siswi yang bersekolah di STOVIA ( School Tot Opleiding voor Indiansche Artsen) atau sekolah kedokteran pada zaman penjajahan Belanda yang terletak di Batavia (Jakarta) untuk membuat sebuah organisasiyang dikhususkan untuk orang-orang Sunda. Mereka kemudian mengunjungi seorang sesepuh Sunda yang bernama Daeng Kandoeroean Ardiwinata.
Kemudian D. K. Ardiwinata menyanggupi perencanaan dari para siswa-siswi yang rata-rata berumur 22 tahun tersebut, dan menjadikan D. K. Ardiwinata sebagai penasehatnya, dan disepakati untuk menamakan organisasi tersebut dengan “Pagoejoeban Pasoendan” yang kemudian diketuai oleh Dajat Hidajat. Oraganisasi ini mendapatkan izin resmi dari pemerintah sejak 9 Desember 1914 hingga kemudian hingga tahun 1918 bertahan sebagai perkumpulan sosial-budaya.
Demi mendukung rencana untuk meperbaiki kondisi masyarakat dalam bidang ekonomi dan sosial maka organisasi ini menganggap perlunya mereka untuk mengambil tempat dalam struktur-struktur pemerintahan. Bersamaa dengan dibuatnya Volksgraad di tahun 1919 kemudian organisasi ini mengajukan permohonan terhadap pemerintah sebagai perkumpulan politik, dan di tanggal 13 Juni 1919 akhirnya Paguyuban Pasundan mendapkan izin resmi sesuai dengan surat keputusan no. 72.
Pada Desember 1972, Paguyuban Pasundan ikut bergabung pada PPPKI (Permoefakatan Perhimpoenan Politik Kebangsaan Indonesia). Dengan bergabungnya Paguyuban Pasudan dalam organisasi ini menjadi langkah dalam masuknya orang-orang Sunda dalam struktur nasional dalam rangka mempersiapkan kemerdekaan.
Kegiatan politik yang diprakasai oleh Paguyuban Pasundan semakin kuata tertutama saat kepemimpinan Otto Iskandar Dinata yang juga dijuluki “Si Jalak Harupat” yang merupakan pemuda Sunda yang lahir di daerah Bojongsoang, Bandung. Di tahun 1931 Otto iskandar Dinata menjadi salah satu anggota Paguyuban Pasundan yang juga menjadi wakil dalam organisasi Volksgraad hingga sampai tahun 1942.
Organisasi Paguyuban Pasundan juga memiliki kontribusi yang sangat penting dalam memperbaiki pendidikan di tataran Sunda. Paguyuban Pasundan sejak tahun 1922 telah mendirikan sekolah Hollansch-Indlandsche School (HIS) Pasoendan di Tasikmalaya. Tidak hanya sampai disitu masih di tahun yang sama dan masih di daerah Tasikmalaya turut pula didirikan Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) Pasoendan yang mendapatkan bantuan dari pemerintah. Hingga tahun 1941 Paguyuban Pasundan telah berhasil mendirikan 51 sekolah dan mengadakan 296 orang guru. Sekolah-sekolah ini berdiri di Bandung dan Tasikmalaya dengan jumlah tujuh buah, dan sisanya tersebar di 34 tempat lainnya di setiap sudut Jawa Barat.
Pendirian sekolahan yang dilakukan oleh Paguyuban pasundan semakin marak setelah diadakannya Kongres Paguyuban Pasundan di Bogor tahun 1931, hasil kongres menyepakati untuk mendirikan Bale Pamulangan Pasundan (BPP) yang pemimpin pertamanya dipercayakan kepada Ahmad Atmadja.
Paguyuban Pasundan tidak hanya konsen terhadap pendidikan formal saja karena pada tahun 1914-1942, organisasi ini berhasil menerbitkan Sembilan media massa sebagai fasilitas bagi pendidikan terhadap masyarakat umum. Surat kabar terbesar ialah Sipatahoenan yang kemudian menjadi ‘corong’ bagi organisasi ini. Berawal sejak pertama kali diterbitkan di Tasikmalaya tahun 1923 dan bersifat mingguan, dan ditahun 1931 Sipatahoenan dipindahkan kantor redaksinya ke Bandung dan berubah menjadi surat kabar harian.
Setelah berhasil melakukan sumbangan demi memperbaiki kualitas pendidikan masyarakat Sunda, Paguyuban Pasundan kemudian memperluas perhatiannya ke bidang ekonomi. Berawal dari kongresnya yang ke-19 di Tasikmalaya tahun 1934, kesepakatan dalam kongres yaitu mendirikan Centrale Bank Pasundan, yang berbentuk N.V., dengan kepemimpinannya yang dipercayakan kepada Iyos Wiriatmadja.
Selain didirikannya sebuah Bank, Paguyuban Pasundan pun menyebarkan kehidupan perkoperasian didalam lingkungan organisasi tersebut. Disetiap cabang akan didirikan sebuah koperasi yang dikenal dengan Koperasi Pasundan. Koperasi tersebut bergerak dalam bidang keuangan, perdagangan dan ada juga koperasi yang menyediakan perabotan kebutuhan untuk para petani. Langkahnya yang cukup menonjol ialah saat organisasi ini berhasil mendirikan lumbung padi (leuit pare).
Organisasi ini melebarkan sayapnya kearah bidang kepemudaan dan pemberdayaan perempuan. Diawali dengan pendirian Pasundan Istri (PASI) dan kemudian pada desember 1934 didirikan JOP (Jeugd Organisatie Pasundan) yang diketuai oleh R. Adil Poeradiredja. Organisasi kepemudaan ini sangat bermanfaat saat pecahnya Perang Pasifik, dengan didirikanya “JOP Brigade” yang berfungsi untuk menangkal kejadian-kejadian yang tidak dikehendaki, dimana brigade ini mendapatkan pelatihan baris-berbaris dan kecakapan berperang dengan bantuan dari Jenderal A. H Nasution.
Di masa revolusi kemerdekaan Paguyuban Pasundan mendapatkan rintangan yang berarti yang menghambat langkah-langkahnya. Pada tanggal 3 November 1945 dikeluarkan maklumat nomor X oleh Pemerintahan Republik Indonesia yang memperbolehkan partai-partai politik untuk dapat kembali berpartisipasi secara aktif di dalam politik dalam negeri, sehingga menghidupkan kembali partai-partai di Indonesia seperti Partai Buruh Nasional (PNI), Partai Islam Masyumi (PIM), Partai Buruh Indonesia, Partai Rakyat Sosialis, dsb. Dengan kemudian Paguyuban Pasundan menjadi tidak aktif kembali, hal ini dipicu dari hilangnya Otto Iskandar Dinata secara misterius, sedangkan beliau dianggap sebagai figure yang sangat penting.
Namun tiba-tiba muncul sebiah partai yang bernama Partai Rakyat Pasundan (PRP) yang memiliki visi yang bersebrangan dengan Paguyuban Pasundan. Situasi ini merangsang para pemuda di organisasi ini untuk kembali menghidupkan organisasi Paguyuban Pasundan, dan kali ini menyebar tidak hanya di Jawa Barat namun juga di Jakarta, dan Yogyakarta dalam waktu yang hampir bersamaan, dan Bandung ditetapkan sebagai pusat Pengurus Besar paguyuban Pasundan dengan diketuai oleh R. S. Suradiradja.
Pada Kongres yang diadakan tanggal 29-31 Januari 1949 di bandung diputuskan untuk mengubah nama Paguyuban Pasundan menjadi Partai Kebangsaan Indonesia (PARKI) dengan tujuan demi memperluas perjuangan di bidang politik. Partai ini kemudian mengikuti pemilihan umum pertama pada tahun 1955, namun suara yang didapat didalam pemilu tersebut tidak mencapai batas yang diinginkan. Kekalahan tersebut menimbulkan perpecahan didalam tubuh PARKI dan kemudian diadakan referendum dalam kongres luar biasa PARKI di tanggal 29 November 1959 dan kemudian dipusatkan untuk mengubah kembali nama PARKI menjadi Paguyuban Pasundan.
Setelah kekalahan didalam pemilu ditahun 1959 tersebut, kegiatan organisasi ini lebih didominasi di dalam aktivitas-aktivitas dalam bidang pendidikan dan sosial-budaya. Salah satu tonggak perjuangannya didalam bidang pendidikan ialah dengan didirikannya Universitas Pasundan di Bandung pada hari Senin tanggal 14 November 1960.
Saat ini Paguyuban Pasundan telah memiliki 32 kantor cabang dengan 492 anak cabang, dan sedikitnya memiliki anggota hingga mencapai 12.300 dimana mereka ini terlibat dalam paguyuban ini. Saat ini Paguyuban Pasundan berkonsentrasi dalam melakukan pelestraian terhadap kebudayaan Sunda, mengingat arus terjangan globalisasi yang mampu mengikis urat akar kebudayaan Sunda, sehingga memnguatkan dan melestarikan kebudayaan Sunda kini menjadi prioritas yang paling utama.
Didalam Paguyuban Pasundan formasi saat ini telah berhasil mendirikan lagi sekolah-sekolah baik dalam jenjang dasar ataupun juga pertengahan yang tersebar di wilayah Jawa Barat dan Banten. Sedang dalam jenjang perguruan tinggi, Paguyuban Pasundan telah memiliki empat perguruan tinggi, yakni:
• Universitas Pasundan, didirikan tanggal 14 November 1960 di Bandung.
• Sekolah Tinggi Hukum (STH) Pasundan, didirikan tanggal 14 januari 1964 di Sukabumi.
• Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Pasundan, didirikan tanggal 29 Mei 1986 di Cimahi.
• Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Pasundan, didirikan tanggal 18 Januari 1988 di Bandung.
Organisasi ini memang tidak dikenal dengan kuat oleh masyarakat suku Sunda pada umumnya, karena pergerakannya yang sangat dipermukaan. Walaupun langkah-langkah yang dilakukannya jelas terasa dengan pendirian sekolah-sekolah di sekeliling Jawa Barat demi mengatasi keterbelakangan pendidikan dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia masyarakat suku Sunda itu sendiri.
3.5 Kesenian Asli Masyarakat Suku Sunda
Kesenian asli masayarakat sunda terbagi menjadi beberapa, baik berupa alat kesenian, tarian ataupun drama. Maka akan dijelaskan secara terperinci pad sub-bab yang ternagkum dibawah ini:

3.5.1 Kirab Helaran
Kirab Helaran atau juga yang disebut dengan sisingaan yaitu sebuah jenis kesenian tradisional atau seni pertunjukan rakyat yang dilakukan dengan arak-arakan yang berbentuk helaran. Pertunjukan ini biasanya ditampilak pada acara khitananan atau acara-avara khusus lainnya seperti; menyambut tamu, hiburan peresmian, kegiatan HUT Kemerdekaan RI, dan kegiatan hari-hari besar lainnya.
Pertunujakn seni ini pernah dilangsungkan pada saat perayaan Hari jadi ke-6 Kota Cimahi, diikuti oleh ratusan orang dari perwakilan seluruh kelurahan Cimahi. Bertolak dari alun-alun kota Cimahi menuju kawasan perkantoran Pemkot Cimahi di Jalan raden Demang Hardjakusumah, deiikuti oleh kelompok-kelompok masyarakat yang menyajikan seni budaya Sunda, seperti sisingaan, gotong gagak, kendang rampak, calung, engrang, reog, barongsai, dan klub motor.

3.5.2 Karya Satra
Dibawah ini disajikan daftar karya sastra dalam bahasa Jawa yang berasal dari daerah kebudayaan Sunda. Daftar ini tidak lengkap, apabila para pembaca mengenal karya sastra lainnya dalam bahasa Jawa namun berasal dari daerah Sunda, yakni; Babad Cerbon, Cariosan Prabu Siliwangi, Carita Ratu Galuh, Carita Purwaka Caruban nagari, carita Waruga Guru, Kitab Waruga Jagat, Layang Syekh Gawaran, Pustaka Raja Purwa, Sajarah Banten, Suluk Wuyung Aya, Wahosan Tumparawang, Wawacan Angling Darma, Wawacan Syekh Baginda Mardan, Kitab Pramayoga/Jipta Sara.


3.5.3 Pencak Silat Cikalong
Pencak Silat Cikalong tumbuh dikenal dan menyebar, penduduk tempatan menyebutnya “Maempo Ciaklong”. Khususnya di Jawa Barat dan diseluruh Nusantara pada umumnya, hampir seluruh perguruan pencak silat melengkapi teknik perguruannya dengan aliran ini. Daerah Cianjur sejak dahulu telah dikenal sebagai daerah pengembangan kebudayaan Sunda seperti; musik kecapi, suling Cianjuran, klompen cianjuran, pakaian moda Cianjuran yang sampai kini dipergunakan, dll.

3.5.4 Seni Tari Jaipongan
Tanah Sunda (priangan) dikenal memiliki aneka budaya yang unik dan menarik, jaipongan adalah salah satu seni budaya yang terkenal dari daerah ini. Jaipongan atau Tari jaipong sebetulnya merupakan tarian yang sudah modern karena merupakan modifikasi atau pengembangan dari tari tradisional khas Sunda yaitu Ketuk Tilu.
Tari Jaipong ini dimainkan dengan diiringi oleh iringan musik yang khas pula yang disebut dengan, Degung.Musik ini merupakan kumpulan beragam alat musik seperti kendang, Go’ong, Saron, Kecapi, dsb. Degung diibaratkan sebuah ‘Orkestra’ didalam kebudayaan musi Eropa/Amerika. Ciri khas dari tari Jaipong ini berada pada musiknya yang menghentak, dimana alat musik Kendang terdengar paling menonjol selama mengiringi tarian. Tarian ini biasanya dibawakan oleh seorang, berapsangan ataupun juga berkelompok. Sebagai tarian yang menarik jaipong sering dipentaskan pada acara-acara hiburan, selamatan, atau pesta pernikahan.
Selain tarian Jaipong juga ada banyak sekali tarian lainnya yang terkenal, seperti seni Tari Merak, dan Tari Topeng.

3.5.5 Seni Musik dan Suara
Selain Seni tari, tanah sunda juga memiliki kandungan seni suaranya yang memiliki keunikan. Dalam memainkan Degung biasanya ada seorang penyanyi yang membawakan lagu-lagu Sunda dengan nada dan alunan yang khas. Penyanyi ini biasanya seorang wanita yang disebut , Sinden. Tidak sembarangan orang dapat menyanyikan lagu-lagu yang dibawakan Sinden, karena nada dan ritme-nya yang cukup sulit untuk ditiru dan dipelajari. Dibawah ini beberapa musik/lagu dareha asli dari tataran Sunda yang paling tersohor hingga saat ini; Es Lilin, Manuk Dadali, Tokecang, Warung Pojok.

3.5.6 Wayang Golek


Jepang boleh terkenal dengan ‘Boneka Jepang’, di tanah Sunda dapat ditemukan juga kesenian Wayang Golek yang sangat terkenal. Wayang Golek ialah sebuah pementasan sandiwara boneka yang terbuat dari kayu dan dimainkan oleh seorang sutradara yang juga merangkap sebagai pengisi suara yang disebut dengan, Dalang. Seorang Dalang memiliki keahlian dalam menirukan berbagai suara manusia.
Seperti halnya pertunjukan seni tari Jaipong, pementasan Wayang Golek juga diiringi oleh alat musik degung lengkap dengan iringan suara Sinden. Wayang Golek biasanya dipentaskan pada acara-acara hiburan, pesta pernikahan, atau acara lainnya. Waktu pementasan pun sangat unik, yaitu dilakukan pada malam hari (biasanya semalam suntuk) dimulai sekitar pukul 20.00 – 21.00 hingga pukul 04.00 dini hari.
Cerita yang akan dilakonkan dalam pementasan Wayang Golek biasanya diilhami oleh budaya Hindu yang diserap dari India. Salah satu ceritanya yang sangat menarik perhatian ialah cerita Ramayana atau Perang Baratayudha. Tokoh-tokoh dalam cerita akan mengambil nama yang juga berasal dari negara India. Dalam Wayang golek terdapat sebuah tokoh yang sangat dinantikan pementasannya yaitu kelompok yang dinamakan Purnakawan, seperti Dawala dan Cepot. Tokoh-tokoh ini digemari karena merupakan tokoh yang selalu memerankan peran lucu (seperti pelawak) dan sering memancing gelak tawa penonton. Seorang Dalang yang pintar akan memainkan tokoh tersebut dengan variasi-variasi cerita yang menarik.

3.5.7 Alat Musik Calung
Adalah sebuah alat musik Sunda yang merupakan protipe dati angklung. Berbeda dengan angklung yang diaminkan dengan cara digoyangkan, cara menabuh calung adalah dengan memukul batang (wilahan, bilah) dari ruas-ruas (tabung bambu) yang tersusun menurut titi laras (tangga nada) pentatonic (da-mi-na-ti-la).
Jenis bambu yang digunakan untuk membuat Calung kebanyakan dari awi wulung (bambu hitam), namun adapula yang terbuat dari awi temen (bambu yang berwarna putih).

3.5.8 Alat Musik Angklung
Merupakan sebuah alat atau waditra kesenian yang terbuat dari bambu khusus yang awalnya ditemukan oleh Bapak Daeng Sutigna sekitar tahun 1938. Ketika awal penggunaannya Angklung masih sebatas kepentingan kesenian lokal atau tradisional saja, namun kini Angklung telah terkenal hingga ke manca negara, terlihat dari beberapa tahun lalu dimana negara tetanga kita, Malaysia, sempat mengklaim bahwa Angklung merupakan alat musik tradisional asli negaranya.

3.5.9 Ketuk Tilu
Ketk Tilu ialah sebuah tarian pergaulan dans eklaigus hiburan yang biasanya diselenggarakan pada acara pesta perkawinan, acara hiburan penutup kegiatan atau bisa juga diselenggarakan secara khusus di suatu tempat yang cukup luas, seperti lapangan. Permunculan tari ini di masyarakat tidak ada kaitannya dengan adat tertentu atau upacara sacral, hal ini murni sebagai pertunjukan hiburan dan ajang pergaulan sosial. Oleh karena itu Ketuk Tilu ini banyak disukai masyarakat terutama di pedesaan yang jarang kegiatan hiburan diadakan didaerahnya.



3.5.10 Seni Barangreng
Seni Barangreng ialah sebuah pengembangan dari seni ‘terbang’ dan ‘Ronggeng’. Seni terbang itu sendiri merupakan kesenian yang menggunakan ‘Terbang’, yaitu semacam rebana tetapi besarnya lebih besar tiga kali lipat dari alat rebana. Dimainkan oleh lima pemain dan dua orang penabuh gendang besar dan kecil.

3.5.11 Rengkong
Rengkong adalah salah satu kesenian tradisional yang diwariskan oleh leluhur masyarakat Sunda. Muncul sekitar tahun 1964 di daerah Kabupaten Cianjur dan orang yang pertama kali me mempopulerkannya ialah H. Sopjan. Bentuk kesenian ini sudah diambil dari tata cara masyarakat Sunda dahulu ketika menanam padi hingga kemudian menuainya.

3.5.12 Kuda Renggong
Kuda Renggong atau Kuda Depok ialah salah satu jenis kesenian helaran yang terdapat di kabupatenn Sumedang, Majalengka dan Karawang. Cara penyajiannya yaitu, seekor kuda atau kadang juga ditampilkan lebih dari satua kan dihias warna-warni, budak sunat atau anak yang sedang disunat akan dinaikan keatas punggung kuda tersebut, kemudain budak sunat tersebut dihias bak seorang raja atau Ksatria, dapat pula dirias meniru pakaian para Dalem baheula. Dengan menggunakn Bendo, takwa dan menggunakan kain serta Selop yang merupakan baju adat tradisional orang Sunda.

3.5.13 Kecapi Suling
Kecapi Suling ialah salah satu jenis kesenian Sunda yang memadukan suara alunan Suling dengan Kecapi, iramanya sangat merdu yang juga biasanya akan diiringi dengan Mamaos (tembang) Sunda yang memerlukan teknik bernyanyi yang sulit dengan mengguakan cengkok/alunan tingkat tinggi khas Sunda. Kacapi Suling berkembang pusat di dareh Cianjur dan kemudian menyebar ke penjuru Parahyangan Jawa barat dan hingga keseluruh dunia.

3.6 Sistem Kepercayaan (Religi)
Seperti yang sudah kita baca di dalam sejarah masyarakat Suku Sunda, bahwasanya suku ini sejak awal sudah sangat terpengaruh dengan pola-pola kepercayaan Hinduisme. Dilihat dari cara mereka menyembah Dewi Sri, Nyi Roro Kidul ataupun Pangeran Siliwangi. Tokoh-tokoh yang melegenda ini sangat di agungkan dalam masyarakat Sunda sehingga beberapa daerah khususnya mereka yang berada di pesisir Pantai Selatan masih sering melakukan ritual-ritual penyembahan kepada ketiga tokoh tersebut.
Setelah masuknya agama Islam yang kemudian terasimilasi dengan kebudayaan Hindu, karena walaupun hampir mayoritas masyarakat suku sunda beragama Islam namun sebagian dari mereka masih tetap mempertahankan ritual-ritual yang dianggap penghormatan kepada leluhur mereka yang berasal dari pola kepercayaan Hindu.
Selain Islam beberapa kelompok menganut agama lainnya selain Islam, misalnya orang-orang Baduy yang tinggal di Banten, kemudian ada juga mereka yang menganut Katolik, Kristen, Hindu, Budha. Di pesisir Selatan beberapa kelopmpok masih mempertahankan praktek-praktek sikretisme dan mistik. Pada dasarnya suku Sunda melakukan ritual ini demi memelihara keseimbangan alam semesta.
Keseimbangan magis dipertahankan dengan upavcara-upacara adat, sedangkan keseimbangan sosial dipertahankan dengan kegiatan saling memberi (gotong royong). Hal yang menarik dalam kepercayaan Sunda ialah sebuah lakon pantun Lutung Kasarung yang merupakan sebuah tokoh Legenda di dalam budaya suku ini. Lakon ini menceritakan mengenai kepercayaan mengenai adanya Allah yang Tunggal (Guriang Tunggal) yang menitiskan sebagian kecil diri-Nya kedalam dunia untuk memelihara kehidupan manusia (titisan Allah ini disebut Dewata).
Bahwasanya setiap masyarakat suku Sunda memiliki sistem kepercayaan yang berbeda, seperti misalnya suku Baduy yang memiliki kepercayaan Sunda Wiwitan yang mana ialah sebuah pemujaan kepada arwah nenek moyang (animisme) ayang pada perkembangan selanjutnya juga dipengaruhi oleh agama Budha, Hindu dan Islam.
Kepercayaan tersebut pada initinya menunjukan sebuah pikukuh atau ketentuan adat mutlak yang dianut dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Kanékés. Isi terpenting dari ‘pikukuh’ (kepatuhan) Kanekes tersebut adalah konsep “tanpa perubahan apapun”, atau perubahan sesedikit mungkin:
Lojor heunteu beunang dipotongm pendek heunteu beunang disambung.
(panjang tidak bisa/tidak boleh dipotong, pendek tidak bisa/todak boleh disambung).
Pikukuh tersebut diimplementasikan kedalam kehidupan sehari-hari secara harafiah hingga menjadi sesuatu yang tabu. Dibidang pertanian, bentuk pikukuh tersebut yaitu dengan tidak mengubah kontur lahan dengan bajak, tidak mebuat terasering, hanya menanam dengan tugal, yaitus sepotong bamboo yang diruncingkan. Begitupun pikukuh diterapkan dalam membangun sebuah rumah, diamana kontur permukaan tanah dibiarkan apa adanya, maka apabila kita mengunjungi dusun tempat dimana mereka tinggal maka kita akan menemukan rumah-rumah yang tiangnya tidak sama tingginya. Begitupun dalam perkataan, ciri khas mereka ialah mereka selalu berkata jujur, polos, tanpa basa-basi, bahkan dalam berdagang mereka tidak akan melakukan tawar-menawar.
Arca Domas ialah sebuah objek kepercayaan terpenting bagi masyarakat Kanekes yang lokasinya sangat dirahasiakan dan dianggap sebuahn monumen yang paling sakral. Mereka akan melakukan kunjungan terhadap lokasi tersebut setiapa satu tahun sekali dan dilakukan pada Bulan Kelima, dimana pada tahun 2003 lalu dilakukan di bulan Juli, Hanya Pu’un atau ketua adat tertinggi dan beberapa anggota masyarakat yang terpilih saja yang bisa mengikuti rombongan pemujaan tersebut.
Didalam kompleks Arca Domas terdapat sebuah batu lumping yang berfungsi sebagai penyimpan air hujan. Batu lumpang tersebut dijadikan sebuah tanda mengenai intensitas hujan yang akan datang di tahun mendatang. Dimana apabila lumpang berisikan air hingga penuh maka diramalkan dalam satu tahun kedepan akan mendapatkan curah hujan yang tinggi, sedangkan apabila kosong maka artinya hujan akan jarang datang dan menjadikan tanda akan adanya gagal panen.
Bagi banyak orang, khususnya masyarakat Sunda pada umunya, adat ini dianggap sebagai kepercayaan orang Sunda sebelum datangnya agama Islam, dimana mereka memiliki keteguhan yang dimiliki masyarakat Sunda pada umumnya. Namun sayangnya masyarakat Kanekes yang sangat tertutup ini menyebabkan mereka tampak ‘aneh’ dimata masyarakat sunda pada umumnya, kehidupan yang sangat tak tersentuh oleh modernisasi menjadikan mereka menjadi bagian ‘asing’ bagi masyarakat Sunda.